Have you sign up RSS Feed Live Bookmarks?

Advertisement

Titanic Lamp

Posted by Charles Trevelyan

Si pembuat, Charles Trevelyan Terinsipirasi oleh film titanic, sehingga lampunya mirip kapal titanic yang lagi terbelah. hue2...

Abyss table lamp

Posted by Author

Dari namanya saja sudah kelihatan. Batu-batu ditumpuk secara teratur pada sebuah tiang yg menyangga lampu, sehingga menghasilkan cahaya yg berpancar ke arah bawah yg tepat seperti sebuah air terjun. Harganya $119.

Desktop Grenade Lamp

Posted by Author

Nama dan model lampu ini cukup keren. Yang belum pernah pegang granat, nih saatnya untuk beli lampu ini. Tombol pemicu granat difungsikan sebagai saklar untuk menyalakan dan mematikan lampu. Harganya kisaran $139.

Bulb Lamp

Posted by Author

Lampu yg satu ini juga cukup unik karena dibuat dan di desain sedemikian rupa dengan sejumlah bola lampu bekas. Bisa dilihat pada gambar bahwa cahaya yang dihasilkan bersumber dari sebuah lampu yang dikelilingi

Memento lamp

Posted by Hiroshi Yoneya and Yumi Masuko

Lampu ini di desain oleh Hiroshi Yoneya and Yumi Masuko. Berbentuk balok dan dihiasi atau sengaja di desain dengan rangkaian angka-angka sehingga jika cahaya dinyalakan akan terbentuk bayangan yg unik di sekitarnya.

Corner Lamp

Posted by Hiroshi Yoneya and Yumi Masuko

Sesuai dengan namanya, lampu ini memang ditujukan untuk pojok ruangan. Bisa dilihat pada gambar bahwa desainnya disesuaikan dengan pojok ruangan. Harganya sekitar $195.

Book Lamp

Posted by Author

Lampu ini di desain berada dalam sebuah buku. Bisa dilihat pada gambar bahwa ketika buku dibuka, terdapat sebuah lampu di tengah-tengahnya. Desain yang sungguh kreatif dan tidak membutuhkan daya listrik yang cukup besar.

Senter Lamp

Posted by Author

Lampu ini mirip banget sama lampu Senter. Didesain oleh perusahaan LifeGoods sebagai lampu yang bisa dibawa kemanapun. Hemat energi dan bisa diisi ulang.

Butterfly Lamp

Posted by Japanese design studio Vinta

Didesain dengan elegan oleh Japanese design studio Vinta. Desain lampu bisa dibuka(seperti kupu-kupu terbang) kemudian terbuka dengan datar(horisontal). Cocok buat ruangan seperti ruang makan, ruang tamu dan sebagainya.



Cohousing, Perumahan Berkonsep Komunitas [1]

Rumah bukan sekadar kumpulan fisik tetapi juga kumpulan sosial. Apakah Anda menginginkan tinggal di perumahan yang ramah sosial, ramah lingkungan, serta ekonomis?

Faktor kebutuhan dan tuntutan rumah yang semakin tinggi, memaksa sebagian besar masyarakat perkotaan menjadi individualis. Berangkat pagi, pulang malam. Kehidupan sosial di sekitar perumahan, hilang. Anak-anak tak bisa bebas bermain dan berekspresi. Semua kegiatan dilakukan di dalam rumah. Tingkat keamanan di perkotaan yang semakin rawan, ditambah tidak adanya interaksi dengan tetangga kanan kiri, membuat mereka semakin tak leluasa bermain. Pagar-pagar rumah seperti benteng yang membuat interaksi dengan tetangga mati.

Dari segi penggunaan lahan, dulu setiap rumah masih memililki lahan kosong untuk berkebun/ bertaman dan tempat bermain anak. Kini, kebanyakan perumahan di perkotaan hanyalah berupa petak-petak rumah kecil, tak ada ruang terbuka , tak ada ruang bermain.

Kota Semakin Padat.
"Pada tahun 1990-an diperkirakan hanya 10% penduduk dunia yang tinggal di perkotaan, sekarang telah mencapai 50% dan diperkirakan tahun 2050 mencapai 75%. Demikian yang disampaikan Tiok Prasetyoadi, arsitek dan urban designer, pada acara diskusi dan pameran cohousing yang diselenggarakan di Musium Bank Mandiri, di Jakarta. Bisa dibayangkan betapa padatnya penduduk di perkotaan kelak. Dengan kondisi demikian, kehidupan diperkotaan ke depan akan jauh dari tingkat kenyamanan, keamanan, dan lingkungan yang bersih serta sehat.

Kondisi inilah yang mendorong Santy Syahril beserta delapan keluarga lainnya berupaya merealisasikan mimpi membuat perumahan dengan konsep cohousing di Jakarta.

Apa Itu Cohousing?
Cohousing adalah sebuah konsep bertempat tinggal. Bedanya dengan perumahan biasa, pada perumahan cohousing penghuni  rumah sudah membentuik komunitas terlebih dahulu sebelum perumahannya sendiri dibangun. Kemudian mereka berkomitmen untuk hidup dalam sebuah perumahan secara bersama-sama dan ikut merancang desain perumahannya.

Rumah-rumah-nya sendiri nanti dibangun sesuai keinginan para anggota komunitas tersebut. Mereka yang anggota keluarganya sedikit bisa membangun rumah dengan sedikit kamar, sedangkan mereka yang memiliki anggota lebih banyak bisa membangun rumah dengan lebih banyak kamar.

Konsep cohousing sudah berkembang di Denmark sejak akhir tahun 1990-an. Konsep ini muncul dilatarbelakangi oleh banyaknya keluarga yang memiliki penghasilan ganda, tetapi bingung dengan kehudupan dan perkembangan buah hati mereka. Siapa yang menjaga anak-anak di rumah? Siapa yang mengasuh dan menyiapkan makan di rumah? Siapa yang mengantar ke sekolah?

Dami komunitas para orang tua yang rata-rata bekerja dan memiliki anak inilah konsep cohousing terbentuk. Namun akhirnya konsep rumah cohousing ini berkembang tak hanya untuk mereka yang telah berkeluarga, tetapi juga mereka yang masih lajang dan para lansia.

Keunikan Konsep Rumah Cohousing
Hampir semua perumahan di Indonesia, design dan perencanaannya dilakukan oleh pihak pengembang. Calon penghuni tinggal menerima rumah dalam keadaan design sudah jadi, dengan pilihan design terbatas pada tipe-tipe rumah yuang disediakan. Mereka tak mengenal siapa calon tetangga mereka, darimana asalnya, atau apa latar belakangnya. Proses pengenalan itu akan mereka lalui di kemudian hari ketika mereka telah menempati rumah tersebut dan bahkan ada kemungkinan mereka tak akan melalui proses itu.

Pada pe-rumah-an dengan konsep cohousing, para calon penghuni (yang sudah membentuk komunitas sebelumnya) ikut berpartisipasi dalam men-design dan membuat perencanaan perumahannya. Fasilitas apa saja yang mereka inginkan, ukuran dan design rumah untuk masing-masing penghuni, bahkan lokasi perumahannya sendiri pun diputuskan berdasarkan hasil diskusi yang mereka lakukan.

Dari segi ukuran, perumahan cohousing yang menggunakan sistem klaster hanya terdiri dari 15-25 rumah. Menurut Santy, ini untuk lebih memudahkan dalam pengawasan, sterilisasi lingkungan, dan juga interaksi sosial yagn terjalin agar lebih erat. Lebih dari 25 rumah keluarga nilai kebersamaannya dianggap akan semakin kecil, bahkan bisa hilang. Sedangkan bila jumlah rumah keluarganya terlalu sedikit, komunitas tersebut menjadi kurang beragam.

1 comments:

  1. achmad maksum says:

    kebutuhan keluarga satu dengan lainnya hampir sana, namun karaktrnya sangat variatif . Tidak mudah untuk mendampingkan dalam cohousing.

Leave a Reply

Search

Google


Mailing List Arsitek Online


rumah
Subscribe to ArsitekOnline now...!

Our Group to Subscribe: Arsitek Online
Powered by us.groups.yahoo.com


Rumah Blog

rumah


Here's what the logo looks like: